Timbulsloko,Desa “Hybrid Engineering”

DEMAK – Jum’at 10 Juli 2020, Desa Timbulsloko merupakan desa pesisir yang memiliki garis pantai sepanjang 4,5 km. Penelitian yang ada menyebutkan bahwa hingga tahun 2015, diperkirakan ada 101 ha luas wilayah di Desa Timbulsloko yang terendam rob.Banyak warga yang kehilangan tanah, sawah maupun tambak akibat semakin parahnya pengaruh abrasi pantai. Tak ayal wargapun kehilangan tempat tinggal, terutama mereka yang berada di barisan paling depan. Bahkan sarana dan tempat ibadahpun turut terkena dampaknya. Banyak warga yang melakukan peninggian terhadap tempat tinggal mereka.

Kegiatan antisipasi seperti pembuatan tanggul sudah dilakukan semenjak tahun 2008. Warga berbondong-bondong mengisi karung dengan tanah liat untuk selanjutnya dipasang di bibir pantai. Bantuan dari pemerintah maupun swasta pun terus berjalan, seperti pembuatan Alat Pemecah Ombak (APO) yang terbuat dari beton maupun ban.

Dibutuhkan suatu sistem yang mampu bekerja bersama alam. Setidaknya itulah yang dilakukan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) asal Belanda, Wetlands International (WI) yang mulai membangun pilot project-nya bertajuk Hybrid Enggineering (HE) di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Suatu sistem yang bekerja berdasarkan prinsip akar mangrove, yakni meredam gelombang, namun juga sekaligus merangkap sedimen sehingga pengembalian daratan yang ‘hilang’ dapat dilakukan.

Sebenarnya pembuatan tanggul dengan meniru sistem perakaran mangrove ini bukanlah suatu hal yang baru, karena sebelumnya sistem ini sudah diterapkan di Belanda, negara yang memiliki ketinggian daratan lebih rendah dari pantainya. Namun, untuk di Indonesia sendiri baru pertama kali dilakukan.

Sistem Hybrid Engineering yang diterapkan di Desa Timbulskolo dapat dikatakan berhasil, sebab warga berbondong-bondong menanam mangrov, hal ini dapat dilihat dari banyaknya tanaman mangrov yang ada di Desa Timbulsloko. Dengan banyaknya tanaman mangrov dapat meredam ombak yang datang dan menangkap sedimentasi tanah sehingga mampu mengurangi abrasi tanah. Kondisi ini dapat memperkuat pondasi tanah yang ada di Desa Timbulsloko sehingga dapat segera untuk melakukan perbaikan infrastruktur yang ada. Salah satunya yang dilakukan DINPERKIM yang bekerja sama dengan penyedia jasa untuk membangun betonisasi jalan di Desa Timbulsloko. Dengan kondisi infrastruktur yang baik dapat mempermudah masyarakat dalam melakukan aktifitasnya, dan membuat masyarakat merasa aman dan nyaman.

Semoga sistem “Hybrid Engineering” ini dapat diterapkan di desa-desa pesisir sehingga dampak abrasi dari air pasang laut dapat berkurang dan dapat mempertahankan garis pantai.
[suc_plp/06#bid.pkp]

Sumber:
https://mangrovemagz.com/2017/04/13/timbul-sloko-dulu-dan-kini/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *