DUPA di Waru

DINPERKIM-DEMAK, – Kesibukan para ibu pengrajin dupa di Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah sudah terlihat sejak pagi. Di home industri Desa Waru, para perempuan sibuk menipiskan bilah bambu menjadi batang-batang kecil. Ada yang berkutat dengan mesin selep untuk menghaluskan bilah bambu.

Ada juga yang sibuk menjemur bilah bambu yang sudah mengering. Sebelum dijemur, mereka merangkai menjadi satu dan mengetukkan ke meja atau lantai home industry.

Debu bertebaran dimana-mana. Namun, para perempuan tangguh itu seolah mengabaikan kondisi itu. Para pekerja tak menghiraukan debu. Ada yang melindungi wajah serta hidung dengan masker. Ada juga yang membiarkan terbuka.

Biasanya, mereka mengirimkan hasil produksi dupa ke Bali dan Lombok. Di Bali sudah ada pengepul.

“Nanti di sana, diberi wewangian baru sebelum didistribusikan ke daerah lain, termasuk Demak. Kami produksi dupa siap pakai,” imbuhnya.
“Waru itu yang paling besar. Banyak pengrajin dan home industry di sana,” katanya kepada, ibu Nurul Prasetyani, ST., M.Si. Senin (20/07).

Dalam seminggu, setiap pengrajin di desa ini mengirimkan antara 40 hingga 80 karung dupa. Baik yang sudah dalam bentuk jadi. Artinya, sudah diberi pewangi dan siap edar. Atau yang baru setengah jadi. Hanya diberi bubuk kayu sebagai pembakarnya, namun belum diberi wangi cendana.

Dupa hasil produksi desa-desa di Mranggen ini boleh dikata sudah merajai pasar Pulau Dewata. Bahkan, juga sudah dikirim ke Lombok, dan beberapa kabupaten di NTB dan NTT.

“Sudah melanglang buana dupa dari Mranggen ini. Tidak hanya dipasarkan di Demak atau Jawa saja. Tapi sudah keluar pulau,” kata masyarakat desa waru itu sendiri

“Tapi produksi tergantung dengan cuaca. Pengeringannya sebagian masih pakai matahari alias dijemur. Ada yang sudah pakai oven, tapi biaya produksi mahal dan kurang efektif,” tegasnya.

[khoiriyah-PIP#bidang PKP Dinperkim]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *