DEMAK – Minggu, 19 Juli 2020, Bagi sebagian besar orang, dunia jurnalistik yang menyusun kata-kata untuk laporan sebagai hal yang sulit. Namun bagi fasilitator Pamsimas Kabupaten Demak justru menjadi tantangan yang menarik.
Bermula dari DPMU Pamsimas Kabupaten Demak Nurul Prasetyani, ST., M.Si yang meminta semua Laporan kegiatan dari Fasilitator Program Pamsimas diwujudkan dalam bentuk berita.
Di awal sempat terjadi kegaduhan argumen di antara Fasilitator. Bagi yang belum pernah melirik dunia jurnalisme menganggap hal ini sebagai beban di luar kewajibannya. Namun bagi sebagian yang lain seperti Shodiq sebagai DC, dunia kewartawanan adalah hal yang biasa jika melihat masa lalunya sering menyusun jurnal dan memang belajar mata kuliah jurnalisme. Didukung kepiawaiannya sebagai penceramah laris, tentu menyusun kata-kata tidak lagi menjadi tugas berat. Begitu pula dengan Mashud sebagai Co-DC. Dengan fungsi sebagai “badal” (pengganti dalam yugas), bagi Mashud yang pernah kursus Dasar-Dasar Jurnalistik, tentu menyusun kata bukan hal yang baru. Kewajiban “setor” laporan dalam bentuk berita justru bisa menjadi wahana mengasah kembali pisau jurnalistiknya lehih tajam.
Beda dengan Shodiq maupun Mashud, bagi orang-orang yang habitatnya ada di angka-angka teknik, dunia jurnalistik yang mengimajinasi dunia faktual bisa menjadi momok yang bisa merusak rangkaian angka-angka yang dihitungnya.
Lain lagi ceritanya bagi Rista dan Nila. Dua orang beda bidang (latar belakang teknik dan ekonomi) yang tergabung di Tim 3 ini, ilmu jurnalistik yang baru dikenalnya di Pamsimas Demak justru punya tantangan menarik karena ingin ikut berkompetisi memperebutkan hadiah dari Dinpermasdes yang dijanjikan oleh Siti Fatimah sembari menunggu doorprize dari Kadinperkim.
Seperti mengulang permintaannya di WAG, Nurul sebagai DPMU dalam pertemuannya dengan Tim 3 pada Senin, 06 Juli 2020,
juga menyampaikan bahwa permintaannya agar Fasilitator membuat berita dimaksudkan untuk mengetahui dan memantau sejauh mana perkembangan Pamsimas. Namun sadar karena tidak semua orang bisa menyusun berita, ia menegaskan bahwa yang terpenting adalah isi beritanya bukan pada redaksinya. Seolah ingin mensupport agar fasilitator tidak terbebani, Nurul pun menyitir kata bijak Albert Einstein ; Semua itu jenius, tapi jika kita menilai ikan dari cara atau kemampuannya memanjat pohon, maka ikan itu akan berpikir bahwa ia bodoh sepanjang hidupnya.
Tim 3 Pamsimas
Bidang PKP