Demak, Senin 15 Juni 2020
Siang hari yang sangat terik, matahari memancarkan panas cahayanya hingga seakan-akan air dalam tubuhpun ikut menguap terkena sinarnya. Menguap dan menghilang tanpa warna dan suara. Daun-daun dari pohon berguguran di sepanjang jalan, sampah berserak tak beraturan mengganggu siapapun yang melihatnya. Disinilah kiranya jiwa-jiwa yang sadar akan kebersihan harus menampakkan wujudnya. Mereka yang tanpa malu membawa sapu membersihkan jalan-jalan.
Terdengar suara bergemerisik di kejauhan, suara sapu beradu dengan aspal. Suara indah itu yang selalu terdengar setiap subuh hingga matahari terbit. Bersinggungan indah di jalan-jalan Kota Demak. Dan lihat, Beberapa titik orange tersebar di segala penjuru di Kota Demak. Setiap titiknya bergerak kesana kesini dengan membawa buah hasil yang banyak.
Sapu ditangan telah menyisir jalan-jalan hingga kikis. Setiap helainya telah menghapus kotoran-kotoran sampah. Berapa helai yang telah terkikis hingga saat ini, berapa banyak sampah yang terkumpul dengan sapu ini?
Ya, sapu yang tak ada artinya jika dibiarkan tergeletak dan terkoyak oleh waktu. Tak adanya artinya jika dibiarkan bekerja sendirian. Tak ada artinya jika tidak ada yang menggunakannya.
Tetapi jika kita mampu mengangkatnya, mampunya mengayunkannya, mampu membuatkan beradu dengan jalan, sapu ini akan meluluhlantakkan setiap kotoran yang manusia buat. Untuk Demakku, sapu ini kuayunkan untukmu. [Apr#perumahan]